Misteri desa Wologai, desa tradisional di Kabupaten Ende

Kurang lebih 60 menit berada disatu obyek wisata sebenarnya terlalu singkat. Namun apa daya, perjalanan ini sebenarnya bukan untuk rekreasi, tapi karena kita lewat daerah tersebut jadi sekalian mampir.
Walau sebentar tapi sangat menarik, dari apa yang saya lihat dan dengar cerita langsung dari satu orang Musalaki (kepala suku/adat) dan warga disitu sehubungan dengan obyek wisata ini.
Wologai adalah salah satu desa dikabupaten Ende. Desa ini adalah salah satu desa tradisional yang menjadi obyek wisata di kabupaten Ende. Desa ini dihuni 7 suku yang berbeda. Pada saat kita mulai masuk area berdiri gapura atau pintu gerbang yang nampaknya belum lama dibangun, begitu pula jalan menuju lokasi nampak masih baru yang terbuat dari batu ceper/ datar ditata sedemikian rupa dan sebagian masih dibenahi.
Pada saat kami datang dan parkir, datang seseorang, setelah bertegur sapa dan basa basi, orang tersebut menyarankan untuk melapor dulu di kantor desa. 50 meter dari tempat kami parkir terdapat kantor desa yang sederhana.Didalam ternyata ada dua orang yang sedang bekerja, kami melapor dengan mengisi buku tamu. Pada hakekatnya untuk berkunjung disini tidak dikenakan biaya, namun biasanya kita hanya memberikan sumbangan sekedarnya dan pengganti sirih istilah mereka berupa rokok untuk petugasnya.
Tanpa diantar kami langsung menuju lokasi. Ditanah yang lebih tinggi nampak ada 3 bangunan dari dari kayu dan bambu, beratapkan ilalang berada melingkar disisi luar tanah yang lebih tinggi dan dibatasi oleh batu batuan, dimana didalamnya terdapat satu bangunan yang sama dan sebuah altar yang terbuat dari batu yang lebar dan ceper/ datar serta berdiri satu buah bangunan dari batu. Ada beberapa batu yang besar, dan kita tidak boleh menyentuhnya. Dari info yang ada, ada sebuah batu, bila kita sentuh sembarangan akan menyebabkan angin puting beliung. Untuk itu kita tidak boleh sembarangan dan ada batas area mana saja yang boleh didekati. Nampak pula beberapa lokasi bekas rumah yang terbakar, masih menyisakan arang dan abu. Sebelumnya salah satu teman yang sudah beberapa kali berkunjung bercerita tentang kebakaran yang terjadi disini.
Kami menghampiri salah satu bangunan yang ada , dan nampak ada dua orang bapak dan anaknya yang masih kecil ada didepan rumah tersebut.
Kami memperkenalkan diri. Dan mulai tanya sana sini. Pembicaraan mengalir begitu saja, dan yang menjadi perhatian buat saya adalah cerita musibah kebakaran yang dialami desa ini.
Menurut beliau kebakaran sudah terjadi 4 kali dan yang terbesar adalah bulan Juli tahun 2012 lalu. Pada saat kebakaran terjadi sebenarnya sedang ada pertemuan dikantor desa yang dihadiri oleh ketujuh suku tersebut untuk menyelesaikan konflik yang terjadi didesa ini.
Desa Wologai dihuni 7 suku yang berbeda yang dipimpin oleh Musalaki (kepala suku/adat),Namun pada saat untuk kepentingan luar akan dipilih satu kepala suku/adat yang mewaklinya.
Menurut cerita sudah beberapa tahun terjadi konflik dalam desa yang lama tidak terselesaikan. Puncaknya tahun 2012 dan diwarnai juga dengan kebakaran yang terbesar. Dan diyakini musibah kebakaran tersebut adalah teguran dari sang pencipta. Kebakaran terjadi disiang hari dalam waktu hanya 14 menit menghanguskan semua rumah adat / tradisional disitu. Selain kerugian rumah juga terdapat barang barang pusaka seperti patung patung, gong, dan yang lebih penting adalah kendang yang terbuat dari kulit manusia.
Pada saat mendengar ada kendang yang terbuat dari kulit manusia ada rasa ngeri, aneh dalam hati saya. Kembali, inilah hal nyata yang saya temui disini, dan di Indonesia banyak hal hal yang aneh menurut sebagian orang yang merupakan budaya, juga masih banyaknya budaya semacam animisme atau dinamisme di Indonesia.
Melanjutkan cerita kendang dari kulit manusia, menurut Musalaki yang menemani kami bercerita, bahwa kendang tersebut benar dari kulit manusia khususnya bagian perut. Kendang yang terbakar tersebut entah sudah berapa tahun tidak dijelaskan. Yang pasti untuk mengganti kendang yang terbakar akan dilakukan ritual khusus, dan pada saat ritual tersebut akan muncul seseorang yang menjadi relawan untuk diekskusi dan diambil kulit perutnya untuk dijadikan kendang. Dan yang anehnya orang tersebut entah dari mana datangnya, karena bukan orang yang berasal dari desa Wologai. Jujur saja pada saat mendengar cerita dan menulis cerita ini ada rasa ngeri dalam hatiku.
Satu hal lagi yang membuatku terperangah adalah biaya dalam pembuatan rumah. Untuk satu rumah dari kayu dan bambu yang beratap ilalang bisa menghabiskan paling sedikit 500 juta. Setelah lebih lanjut saya tanyakan, ternyata biaya tersebut termasuk biaya untuk upacara adat dan itu yang paling banyak memakan biaya.
Atas terjadinya musibah kebakaran tersebut, pemerintah sudah mulai memberi dana bantuan dan yang sudah nampak adanya pembuat 2 rumah juga perbaikan jalan. Desa tradisional ini adalah aset daerah, namun bila kita lihat kebutuhan dana untuk perbaikan adalah sangat besar, bila kita hitung rata rata 1 rumah seharga 500 juta, dan yang perlu dibangun disitu katakanlah 10 rumah, paling tidak akan perlu dana 5 miliyar, dana yang tidak sedikit.
Matahari makin meninggi, rasa panas mulai terasa walau udara segar didataran tinggi mengimbangi rasa panas yang kurasakan. Tak terasa kurang lebih 60 menit sudah kami berada di desa Wologai yang penuh misteri buat saya. Waktunya berpamitan, dan dari informasi yang ada hari ini akan ada ritual, entah ritual apa,..lebih baik segera melanjutkan perjalanan ke Maumere. Dan mungkinmasih ada obyek wisata lain yang lebih menarik untuk disambangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s