Hama Penggerek Buah Kakao

Kakao adalah salah satu komoditi unggulan di kabupaten Sikka. Namun demikian sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu produksi kakao di Kabupaten Sikka menurun dratis. Salah satu hama yang banyak dijumpai dan menyebabkan turunnya produksi kakao di Kabupaten Sikka adalah PBK atau Penggerek Buah Kakao.
Unt uk lebih detail kita simak apa itu PBK, bagaimana gejalanya dan penanggulangannya dibawah ini.

HAMA UTAMA TANAMAN KAKAO DAN PENGENDALIANNYA

Jenis serangga hama yang merupakan hama tanaman kakao di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Menurut Entwiste (1972) terdapat lebih 130 spesies serangga yang berasosiasi dengan tanaman kakao. Namun, hanya beberapa spesies yang benar-benar merupakan hama utama, yaitu Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) atau PBK, Kepik penghisap buah (Helopeltis, sp), ulat kilan (Hyposidra talaca Walker), Penggerek Batang yang terdiri 4 jenis yaitu (Zeuzera coffeae, Squamura sp, Glenia celia, Cerosterna sp) dan ulat api (Darna trima). Selain hama utama tersebut, kadang-kadang masih dijumpai hama lainnya seperti tikus, tupai, dan babi hutan.

Penggerek Buah Kakao

Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) adalah hama perusak utama pada tanaman kakao. Hama tersebut meletakkan satu persatu telurnya pada permukaan buah, kemudian telur yang menetas menjadi larva (ulat) langsung menggerek ke dalam buah sehingga mengakibatkan kerusakan pada buah dan aman dari pemangsa. Kemudian larva keluar dari buah membentuk pupa setelah itu berubah menjadi Imago atau serangga dewasa.

Siklus Hidup PBK dan Morfologinya

Telur
Telur berwarna orange, berbentuk oval, berukuran sangat kecil (0,5 mm) sehingga sulit dilihat, terdapat pada alur buah, Masa telur diperkirakan 3 – 7 hari. Serangga betina dapat menghasilkan 100 – 200 telur.

Larva
Larva (Ulat) adalah tahap yang paling merusak. Setelah telur menetas menjadi larva, langsung menggerek kedalam buah dan memakan plasenta. Meninggalkan kotoran berwarna coklat. Larva membutuhkan 14 – 18 hari untuk menjadi dewasa dan keluar dari dalam buah. Berukuran panjang 1,2 cm berwarna hijau keputihan. Larva keluar membentuk pupa pada daun, kulit buah.
Pupa
Pupa biasanya menempel pada bahagian bawah daun kering dan hijau dan kulit buah yang aman dari sinar matahari, pemangsa dan genangan air. Pupa berwarna abu-abu yang terbungkus dengan “lapisan lilin” (membran) berwarna orange, berukuran ± 0,8 cm. Setelah 5 – 7 hari kemudian berubah menjadi serangga (imago).

Imago
Serangga ini berukuran panjang ± 0,7 cm dan lebar ± 0,2 cm dengan bentangan sayap ± 1,2 cm, memiliki antena yang lebih panjang daripada tubuhnya dan gelang disepanjang tubuhnya, berwarna coklat keabu-abuan, pada bagian sayap terdapat garis berwarna putih berbentuk zig-zag, berwarna kuning-orange pada ujung sayap, hidup dalam masa 3 – 7 hari. Pada siang hari serangga ini beristirahat dibawah dahan yang horisontal, aman dari sinar matahari dan angin.

Penyebaran Hama PBK
Hama PBK dapat menyebar dan berkembang melalui :
1. Manusia, yaitu pupa yang melengket pada pakaian atau pada barang bawaan
2. Membawa buah dari lokasi yang terserang ke lokasi yang tidak terserang.
3. Bantuan angin, penyebarannya dapat berpindah dengan jarak yang cukup jauh, (mencapai 800 mtr)
4. Kebun yang tidak terawat
5. Kulit buah yang terserang dibiarkan terhambur
Saat ini, penyebaran hama PBK hampir menyeluruh di propinsi penghasil kakao, meliputi Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Sumatera, Papua, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, selain di Indonesia, PBK juga menyerang kebun kakao di Mindanao (Filipina), serta Sabah dan Serawak (Malaysia).

GEJALA SERANGAN :

1. Terdapat bekas lubang pada permukaan kulit buah
2. Buah masak sebelum waktunya
3. Perkembangan buah tidak normal
4. Buah sulit dibelah
5. Biji saling berdempet

Tanaman Inang

Selain tanaman kakao, hama ini juga menyerang buah Rambutan (Nephellium lappaceum), Cola (Cola nitida, C. Acuminata), Nam-nam (Cynometa caulifora), Kasai (Pometia pinnata), Pulasan (Nephellium mutabile), Langsat (Lansium domesticum) dan Mata kucing (Nephelium malaiense).

Pengendalian

Setelah mengetahui siklus hidup PBK, akan memudahkan dalam hal pengendalian. Metode pengendalian yang pernah dilakukan adalah :
1. Praktek perkebunan kakao yang baik (P3S) yaitu Pemangkasan, Pemupukan, Panen teratur dan sanitasi.
2. Pengembangan musuh alami (Pengendalian hayati);
a. Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus)
b. Rangrang (Oecophyla smaragdina)
c. Jamur entomopatogen (Beauveria bassiana dan Phecilomyces fumosoroseus)
3. Sarungisasi (Penyelubungan buah)
4. Insektisida piretroid sintetik seperti deltametrin, fipronil, lamda sihalotrin, betasiflutrin, alfa sipermetrin dan esfenvalerat dengan konsentrasi formulasi 0,06 – 0,12 %. Atau sesuai dengan anjuran pemakaian masing-masing insektisida.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s