Perubahan pola pikir,….

Yohanes Viani Saru adalah salah satu dari 864 petani di Kabupaten Sikka yang mengikuti kegiatan Sekolah Lapangan Kakao dari project Support of Poor Small Cacao Farmer – SPSCF. Pria berusia 42 tahun ini pada saat sebelum menikah, lama merantau dan kemudian pulang kedesa menjadi petani untuk mengelola kebun kakao warisan dari orang tuanya.

Sebagai petani, kegiatan sehari hari mulai pagi sudah pergi ke kebun sekitar jam 07:00 untuk mengurusi kebun kakaonya seperti sanitasi kebun, pemupukan dan sebagainya, dan biasanya pada jam 11:30 sudah pulang ke rumah. Dengan bekal tanah seluas kurang lebih 1 ha warisan orang tuannya, Yohanes menanam kakao kurang  lebih 500 pohon, sebagian besar sudah menghasilkan, namun demikian beberapa tahun terakhir juga terkena hama dan penyakit dan tidak tahu bagaimana cara menanggulanginya. Selain kakao, dikebun juga ditanam pohon kelapa dan kemiri yang juga menjadi sumber pendapatan lain. Disaat awal musim hujan Yohanes juga menanam jagung, hasilnya untuk persedian sendiri.

Kegiatan Sekolah Lapangan Kakao adalah termasuk program baru yang masuk di Kabupaten Sikka. Sebelumnya baru ada satu lembaga yang menyelenggarakan namun dengan jumlah sangat terbatas. Sebagaian besar petani masih beranggapan setiap ada program bantuan selalu akan mendapatkan uang ataupun material. Tidak demikian halnya dengan Sekolah Lapangan Kakao, program Sekolah Lapangan Kakao lebih memberikan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam hal praktek bertani yang baik (Good Agriculture Practice)

Yohanes salah seorang petani yang dengan kesadaran sendiri  mengikuti Sekolah Lapangan Kakao.  Dia termotivasi setelah mendengar petani yang lain yang sudah mengikuti. Dan juga karena keinginannya mencoba dan menekuni pertanian kakao. Di dalam Sekolah Lapangan Kakao, materi utama yang diberikan adalah berkenaan dengan P3S (Pemupukan , pemakasan, panen sering dan sanitasi), pembuatan pupuk organik, pembuatan pestisida nabati, rehabilitasi (sambung samping dan sambung pucuk) juga pembenihan, serta masih banyak lagi materi yang bermanfaat untuk pertanian.

Sekolah Lapangan Kakao tidak akan ada artinya tanpa adanya praktek yang dilakukan oleh para peserta. Bersama aggota kelompok lainnya Yohanes mulai menerapkan ilmu yang didapat selama sekolah lapang. Secara bergiliran mereka bekerja bergotong royong selain di demoplot juga di kebun para anggotanya untuk menerapkan materi atau pengetahuan yang sudah didapat dari sekolah lapang. Dari banyak materi Sekolah Lapangan Kakao yang diterapkan dan yang paling cepat bisa dilihat hasil perubahannya adalah pemangkasan. Dengan adanya pemangkasan intensitas sinar matahari yang masuk mencapai 50 – 60 % sehingga mengurangi kelembaban udara dan tentunya akan mengurangi hama dan penyakit.

Dibandingkan dengan kebun petani lain yang tidak mengikuti sekolah lapang. Kebun Yohanes nampak lebih terang dan bersih. Dari beberapa pohon yang sudah dilakukan sambung samping dan sambung pucuk pada tunas air, sudah mulai menampakkan hasilnya dan tumbuh dengan baik, sehingga Yohanes sudah mulai memotong batang induknya. Dengan memotong batang induknya dan melakukan perlakukan seperti sanitasi dan pemupukan sudah mulai nampak keluar bunga di setiap cabangnya, dimana sebelumnya selama bertahun tahun sejak serangan hama dan penyakit kakao yang dimiliki tidak pernah berbunga. Dia perkirakan dan harapkan pada sekitar bulan April dan Mei sudah mulai bisa dipanen.

Sejak menyelesaikan Sekolah Lapangan Kakao dan menerapkannya praktek bertani yang baik dikebun kakaonya dan sudah menampakkan perubahan, mulai banyak petani lain yang memperhatikannya dan mulai tertarik bahkan meniru dan minta Yohanes untuk mengajarkannya. Bagi Yohanes dan petani lain yang mengikuti Sekolah Lapangan Kakao tidak keberatan dan senang untuk berbagi pengetahuan namun petani yang mau ikut diusahakan sekaligus banyak dan mempunyai kesungguhan dalam kegiatan tersebut nantinya.

Harapan kedepan dengan program SPSCF, baik lembaga maupun pemerintah tetap selalu melakukan pendampingan, karena  petani masih butuh bimbingan dan arahan. Selain itu juga berharap bukan hanya di budidayanya saja namun juga pada pasca panen dan pemasarannya. Dan yang paling penting Yohanes ingin menjadi petani yang sejahtera, seperti halnya petani lain di Indonesai.

“Kalau kita terapkan betul Sekolah Lapang dan kita atur baik baik pasti ada perubahan,………..saya yakin itu karena kakao yang saya sambung samping dan sambung pucuk sekarang sehat dan batangnya besar besar, dan banyak bunganya sudah mulai keluar sementara bertahun tahun sebelumnya tidak pernah berbunga” itu kata yang diucapkan Yohanes sebagai rasa keyakinannya akan kegiatan perkebunan kakao

Yohanes Fainisar 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s