Super MOM

Kita harus yakin Allah sudah menentukan rejeki kita masing masing, tidak akan kurang sedikitpun sampai kita mati.

Setiap keluarga tentu beda kondisi ekonominya, ada yang dengan hanya suaminya saja bekerja sudah cukup bahkan lebih, ada juga yang dua duanya bekerja masih kurang juga.

Seorang istri tidak mempunyai kewajiban mencari nafkah, namun kadangkala beberapa keluarga akhirnya harus melibatkan istrinya untuk mencari nafkah. Bagaimana dengan seorang istri yang membantu suaminya mencari nafkah dari rumah?

Ada tulisan yang menarik dari teman di Komunitas saya, yang atas ijin beliau saya tampilkan diblog ini, semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua.

Super MOM

Bahasan Ibu bekerja dari rumah adalah salah satu bahasan yang selalu menarik. Dengan semakin tingginya biaya hidup, para Ibu tentu merasa terpanggil untuk membantu dan menambah penghasilan keluarga .

Ibu yang bekerja mengurus rumah dan mempunyai penghasilan sering di sebut sebagai SUPER-MOM. Wow, keren sekali ya istilanya. Padahal nyatanya -dari pengalaman dan pengamatan saya-  SUPER-MOM cuma di Cerpen, novel atau kisah khayalan lainnya.

Menjadi sosok SUPER-MOM sangatlah berat, meskipun perempuan adalah makhluk multi tasking , namun tidak mungkin menjadi manusia super. Karena keterbatasan konsentrasi dan kemampuan. SUPER-MOM yang sering muncul di televisi atau tabloid, biasanya urusan rumah tangganya terabaikan. sedangkan SUPER-MOM untuk urusan keluarga malah biasanya tidak menjadi berita , karena tidak terlihat.Lelaki yang secara fisik lebih kuat dari perempuan saja ,diantara ratusan juta populasinya hanya 1 yang berhasil dinobatkan sebagai SUPERMAN. Namun sayangnya cuma ada di komik dan film saja.

Untuk itu, Saya ingin mengistilahkan seorang Ibu yang aktif adalah seorang Mom-preneur. Aktif yang saya maksudkan disini adalah seorang Ibu yang mau dan sanggup menjalankan peran ganda sebagai Ibu rumah tangga dan sebagai pemilik usaha.
Menjadi Mom-preneur tidaklah sulit, meskipun juga tidak mudah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Mom-preneur :.

1. Mom-preneur harus jago manajemen.
Seorang mom-preneur dituntut menguasai manajemen waktu, manajemen pendelegasian dan manajemen hati , karena double peran jika tidak dikelola dengan baik bisa membuat seorang Ibu mengalami stress.

Dalam waktu 24 Jam, Mom-preneur harus bisa membagi waktu untuk mengurus rumah, beribadah , bersosialisai dan waktu untuk diri sendiri. Informasikan pembagian waktu ini kepada suami dan anak-anak. Sehingga mereka akan paham dan tidak protes jika pada waktu-waktu tertentu Ibu tampak mengabaikan mereka.
Konsen utama seorang Ibu adalah urusan lokal rumah tangga, Sayangnya,pekerjaan dalam rumah tangga seolah tidak ada habis-habisnya. Belum lagi jika mempunyai balita yang harus diperhatikan aktifitasnya setiap detik. Sangat sulit jika semua itu dikerjakan seorang diri.
Ibu yang memutuskan untuk ikut bekerja maka ia harus bisa mendelegasikan sebagian pekerjaan rumah kepada anggota keluarga lainnya.
Banyaknya tugas yang harus dilakukan sementara waktu “cuma” 24 Jam. Seorang Mom-preneur akan menghadapi kondisi dikejar deadline, customer cerewet, anak rewel, suami manja (?) semua tekanan tersebut membuat syaraf tegang , akibatnya Ibu bisa menjadi lebih galak. Jika tidak segera menata hati lama -lama suami dan anak-anak menjauh karena takut jika sang Ibu tersenggol sedikit maka akan meledak…
Untuk itu seorang Mom-preneur harus mempunyai kesabaran yang tak berujung

2. Mom-preneur harus gaul

Customer lebih suka membeli dari seseorang yang lebih dikenal dibanding dari orang yang tidak dikenal, Maka perbanyaklah bersosialisasi. Akan sulit tetangga atau teman menerima seseorang yang tidak terlalu dikenal ujug-ujug datang lalu menawarkan dagangan.
Ikutan komunitas juga termasuk sosialisasi. Namun jangan “diam” saja, alias baca-baca email yang masuk saja. Harus ikut aktif berkontribusi.

Banyak isu-isu aktifitas kompetitor yang bisa diperoleh pada saat kita hang-out dengan sekelompok teman. Bahkan seringkali bisa menemui jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapai pada saat copy darat dengan suatu komunitas.
paling tidak , dengan bergaul akan menambah daftar teman dan daftar referensi

3. Mom-preneur harus rajin belajar.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak percaya bahwa jawaban dari Bunda adalah jawaban yang paling benar atas setiap pertanyaannya.
Menjual produk lama ataupun baru jelas harus mempelajari segala aspek pasar, kelamahan dan keunggulan produk, aktifitas kompetitor dan lain sebagainya.
Tak ada cara lain, seorang Mom-preneur harus rajin belajar karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, pengetahuan kita tentang sesuatu pada 5 tahun lalu bisa saja dianggap jadul sekarang.

4. Mom-preneur harus tahan banting
Dari mulai bangun tidur sampai mau tidur bagi seorang Mom-preneur tak ada waktu yang akan terbuang sia-sia. Sekalipun sedang tiduran sambil menyusui bayi, tetaplah merupakan waktu yang berkualitas. Karena meskipun terlihat sedang berbaring, isi kepala sering berputar menyusun menu makanan, atau merencanakan strategi penjualan, dll.
Seorang Mom-preneur harus bisa tetap tersenyum pada saat menyambut anak pulang sekolah padahal baru saja menerima komplain customer. Atau harus siap menemani suami makan padahal sedang dikejar-kejar deadline produksi.

Melelahkan dan terasa berat? TIDAK! Karena seorang Mom-preneur adalah seorang yang penuh cinta kepada keluarganya.
*bagi yang mempunyai daftar syarat lain silakan menambahkan, kita saling berbagi.*

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Rinny Ermiyanti
Ibu yang sedang belajar jadi Mom-preneur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s