Gambaran Petani Kita

Hari ini adalah hari pertama kali saya bisa dan sempat berkunjung kelapangan, setelah hampir dua bulan berkutat di kantor untuk menyelesaikan laporan survey livelihood dan beberapa form untuk sekolah lapang. Sebenarnya proyek sudah berjalan 1 tahun dan saya baru masuk pada saat ini jadi masih banyak yang harus saya pelajari baik konsep, tujuan proyek dan strategi strateginya.

Untuk proyek dengan durasi waktu 3 tahun (2011 – 2014) dengan jumlah 6 staff, 2  orang Jakarta dan 4 orang staff  lokal (daerah setempat) harus dirasa cukup walau untuk mencakup dari beberapa kegiatan intervensi. Selain itu kita juga selalu melibatkan dan bermitra dengan sumber daya lokal yang ada baik pemerintah setempat maupun lembaga lain yang ada. Ini kita lakukan  dan persiapkan karena kita juga harus berpikir tetang keberlanjutan proyek yang ada. Kita tidak akan selamanya ada disini, proyek selesai harus ada yang melanjutkan , dan merekalah yang akan mengambil alih pekerjaan kita. Sebenarnya fungsi kita tak lebih sebagai fasilitator saja.

Coklat atau kakao adalah komoditi urutan kedua setelah kelapa dalam di Sikka. Selain itu ada beberapa komoditi lain yang turut menyumbang dan menjadi penggerak pendapatan petani di kabupaten Sikka, yaitu kemiri, pala, cengkeh dan lontar. Seperti kita ketahui kakao dari Indonesia menyumbang kebutuhan kakao di tingkat global dan Indonesia menduduki tingkat ketiga setelah Pantai gading dan Ghana. Namun demikian beberapa tahun belakangan dirasakan adanya penurunan yang dratis dari produk kakao di Indonesia. Sebagai gejala yang kita lihat adalah produktivitas yang rendah, namun bila kita tanya lebih dalam “kenapa dan kenapa”, akar permasalahannya adalah kurangnya atau belum memadainya transfer pengetahuan know how atau GAP (good agriculture practice) pada petani. Pemerintah sebagai lembaga yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan hal tersebut masih belum mampu melakukan, hal ini dikarenakan beberapa hal, seperti masih kurangnya sumber daya penyuluh yang menguasai ilmu tentang perkakaoan, jumlah PPL yang terbatas, minimnya dana operasional bagi PPL bila dibandingkan desa atau wilayah di ditanggung jawabi, dengan kondisi jalan yang kurang nyaman.

Untuk itu proyek ada disini, dengan keterbatasan dana yang ada kita harus membuat strategi yang pas dan paling mungkin berhasil. Untuk meningkatkan SDM berpengetahuan dan mumpuni dalam bidang coklat kita melakukan Pelatihan Untuk Pelatih (TOT) dimana sebelumnya kita melatih para “Master Trainer” yang kita ambil dari para petani andalan, adalan yang dimaksud disini, mereka mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam hal kakao dan melakukan budidaya kakao yang baik dikebunnya juga yang terpenting mempunyai komitmen dan semangat untuk memberikan ilmu danpengalamannya pada petani lain.
Untuk mencakup dan mencapai target jumlah petani yang langsung dilatih, Master Trainer kemudian melatih 80 petani kunci selama 2 minggu, baik materi maupun fasilitasi. Dirancang, petani kunci ini yang nantinya akan melatih kelompok nya msaing masing di desa target proyek, yang sudah memenuhi kriteria antara lain: jumlah produksi tinggi, jumlah petani kakao banyak dan ada poktan dan koperasi yang aktif, mempunyai motivasi untuk menginvestasikan wantu tenaga dan kebunnya untuk kegiatan ini.

Saat ini saya sudah berada disalah satu kelompok Sekolah Lapang Budidaya Kakao. Menurut field coordinator kami, kelompok ini salah satu kelompok yang mengajukan diri atau minta untuk pelatihan. Terlihat dari antusias dan jumlah yang hadir, berimbang antara jumlah bapa bapa dan mama mama (panggilan ibu ibu disini). Perlu saya jelaskan Sekolah Lapang adalah metodologi yang kami gunakan dalam pelatihan Kakao disini. Secara asal sekolah lapang adalah sekolah tanpa dinding (didemoplot kebun belajar) dimana peserta secara periodik akan bertemu untuk melakukan pengamatan, analisa, diskusi untuk memecahkan masalah mereka dan melakukan praktek atau tindakan yang mereka sepakati. Dalam sekolah lapang semua kegiatan tersebut rutin dilakukan, dalam diskusi biasanya akan dibagi dalam 2 atau 3 kelompok. Hasil diskusi akan mereka presentasikan, kelompok lain boleh bertanya bahkan menyanggah. Disini peran fasilitator diperlukan, mereka harus menyimpulkan dan membuat kesepakatan untuk mempraktekan atau melakukan tindakan. Yang tidak kalah penting dalam sekolah lapang menggunakan metode belajar orang dewasa jadi setiap peserta dimotivasi untuk mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Disini tidak ada yang benar tidak ada yang salah, tidak ada guru atau murid, fungsi pelatih lebih sebagai fasilitator

Tak terasa 3 jam sudah saya mengikuti dan mengamati sekolah lapang disini. Hemm,……bau sesuatu,…….
Oh,…ternyata makanan sudah siap,…..jangan bayangkan makanan disini sama dengan makanan di meja makan kita. Semua dari kebun mereka, ada rose (talas), lawer (urap dari daun singkong dan pepaya), Ai Ohe (singkong) baik dibakar maupun direbus, sayur dari labu siam, kacang panjang, satu lagi ikan asin,…lengkap sudah *logat NTT mode on*

Kenyang,…………
Bapa dan mama terima kasih makanannya. Saya berharap sekolah lapang ini berguna buat kita. Kita tidak perlu menunggu bantuan dari pemerintah yang entah kapan datangnya. Petani punya potensi alam yang ada, punya kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya masing masing. Yang penting adalah bapa dan mama harus mau merubah diri sendiri.
Kami hanya bisa memberi perhatian dan pendampingan.

Indonesia dengan alamnya yang kaya raya ini , namum petani petani masih hidup dibawah garis kemiskinan. Apa yang salah ya,……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s