Lebaran sebentar lagi,…….

Tak terasa hari ini tanggal 4 Agustus sudah memasuki hari ke 14 bulan Ramadlan.
Hari ini aku sedang dalam perjalanan dari Pekalongan menuju Jakarta dengan menggunakan bus sinar Jaya jurusan Kampung Rambutan. Dari terminal Pekalongan, bus berangkat tepat pukul 07:30 diikuti oleh bus Sinar jaya lainnya dengan jurusan yang berbeda, seperti jurusan Pulau Gadung, Cibitung, Benhill, dan jurusan lainnya. Sebagian besar bus hanya berpenumpang tidak lebih dari 10 orang, bahkan ada yang hanya 3 orang saja. Ya,….karena ini pertengahan puasa, biasa mulai ramai pada minggu ke tiga bulan puasa.

Image


Sepanjang perjalanan daerah pantura, nampak aktivitas menyambut lebaran sudah terasa. Dari pihak kepolisian sudah mulai menyiapkan pos pos penjagaan di titik titik tertentu yang dianggap rawan kecelakaan dan kemacetan. Ada beberapa ruas jalan di beberapa titik seperti di daerah Indramayu masih diperbaiki, berharap seminggu sebelum lebaran sudah selesai, karena pada saat itu sedang padat padatnya pada Mudik. Berbicara masalah perbaikan jalan, semua tidak heran, hampir tiap tahun selalu ada perbaikan jalan.Beberapa pendapat masyarakatn, ini kan diproyekkan istilahnya, kalau tidak ada proyek tidak ada duit buat beberapa pihak, seperti pemborong misalnya, bahkan orang pemerintahan yang mempunyai hubungan dengan proyek tersebut. Sudah bukan rahasia umum lagi bagaimana permainan kotor yang dilakukan para orang orang yang tidak bertanggung jawab, mencari untung untuk diri dan kelompoknya melalui kegiatan yang notabone dibiayai oleh rakyat.
Tak ketinggalan pasar pasar sudah mulai ramai dan mulai melebar ke jalan umum yang menyebabkan kemacetan terjadi. Beberapa pusat grosir pakaian sudah dipenuhi oleh pedagang pedagang dari lain daerah untuk “kulakan” , yang kemudian akan dijual kembali, seperti pusat grisir Setono di Pekalongan, pusat grosir di Tegal Gubuk Cirebon dan masih banyak lagi tempat grosir sepanjang Pantai Utara.
Ramadlan adalah bulan suci, tidak hanya membawa berkah untuk akhirat, karena Allah memberikan pahala yang berlipat lipat bagi seorang hambanya yang berbuat kebajikan. Bulan Ramadlan adalah bulan yang istimewa. Ramadlan juga membawa berkah bagi semua untuk duniawi, pada saat puasa dan Lebaran secara langsung semua perniagaan meningkat penjualannya, dan itu tidak hanya untuk umat muslim saja.

Apa hakekat lebaran atau Idul Fitri?  Ini sekilas hakekat lebaran yang saya dapat dari

sumber (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=55829:-memahami-hakikat-hari-raya-idul-fitri&catid=33&Itemid=28).

Pada saat tenggelam matahari di ufuk barat pada akhir Ramadhan gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia.Isyarat ini mengindikasikan sudah masuknya 1 syawal, hariraya‘idul fitri bagi setiap umat Islam. Ramadhan yang telah dijalani sebagai bulan latihan,pencerahan sudah meninggalkan kita.

Sehingga tidak sedikit umat Islam yang terlihat ceria dan gembira, senyum dan kebahagiaan menghiasai bulan yang penuh fitri tersebut. Kendatipun demikian, ternyata tidak semua orang yang merayakan hari raya ‘idul fitri itu punya hak untuk ikut dalam kebahagiaan dan keindahan hari besar itu. Sebab hanya mereka yang berpuasa serta beribadah pada Ramadhan saja pada hakikatnya berhak untuk berhari raya.

Terlepas dari mereka yang merayakan hari kemenangan itu apakah orang-orang yang  kut berpartisifasi menegakkan ibadah atau tidak pada bulan Ramadhan. Namun, paling tidak umat Islam harus dapat memahami hakikat dari ‘idul fitri itusendiri.Artinya‘idu lfitr iitu harus diberi makn adan tindakan yang benar sehingga benar-benar punya makna.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit umat Islam yang memandang bahwa har iraya‘idu lfitri itu ditampilkan dengan serba “waah”, apakah itu pakaian, rumah,mobil,dan hidangan yang serba lezat.Akhirnya yang terjadi adalah sikap saling berlomba-lomba untuk menunjukkan sesuatu yang membuat orang lain berdecak kagum.

Oleh karena orientasinya seperti itu, sehingga tidak sedikit mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh kerja extra kerja keras dalam mencari pendapatan tambahan, dengan tujuan agar kiranya dapat tampil beda dari hari yang sebelumnya.

Tapi apakah demikian cara yang dianjurkan agama untuk merayakan hari‘idul fitri?.Memang semua persiapan yang dilakukan oleh umat Islam seperti diatas pada dasarnya semua tidak salah. Tapi terkadang nilai-nilai yang tercerabut atau boleh dikatakan bahwa tujuan pokok dari hari ‘idul fitri tidak tercapai sama sekali.

Dalam hadisnya Rasulullah menggambarkan bahwa mereka yang berhakuntuk mendapatkankemuliaan dan kebahagiaan hari yang fitri bukan mereka yang punya pakaian baru sampai dua, empat, lima pasang, ataupun bahkan lebih. Bagi mereka yang punya mobil mewah, rumah baru, hidangan yang serba lezat dan nikmat, tapi hari raya itu diperuntukkan bagi mereka yang mencapai tingkat kepatuhan dan ketakwaannya kepada Allah semakin meningkat.

Sebelum masuk bulan Ramadhan shalatnya masih ada yang tinggal, berinfak tidak pernah, suka menyakiti perasaan tetangga,dan lain sebagainya. Setelah Ramadhan semua sifat yang jelek itu berubah kepada yang lebih baik bahkan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Tipologi orang yang terjadi perubahan pada dirinya dari yang jelek kepada yang baik, atau orang yang sudah baik sebelumnya kemudian setelah dibina dan didik pada Ramadhan menjadi orang yang lebih baik dan taat pada hakikatnya mereka inilah yang berhak mendapatkan ‘idul fitri tersebut.

Hal ini dapat kita lihat dalam hadis Rasul yang artinya,“Bahwa hari raya ‘idul fitri bukanlah untuk mereka yang berpakaian serba dan mewah tapi idul fitri itu bagi mereka yang ketaatan dan kepatuhannya semakin meningkat”.

Hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang hanif tidak membutuhkan tampilan-tampilan luar yang serba menggoda dan menakjubkan mata. Tapi yang dimaksud adalah kesucian dan kebersihan hati menuju Allah. Dengan kata lain, sekalipun bagi sebahagian orang merayakan hari kemenangan ini hanya dengan sederhana dan tanpa berlebihan tapi nilai ibadah mereka bagus dan kuat,maka dalam pandangan Allah itulah yang sesungguhnya.

Apabila kita cermati lebih jauh hadis diatas merupakan satu bentuk penghargaan dan apresiasi Allah bagi mereka yang kurang mampu dalam bidang ekonomi. Sebab jumlah kuantitas masyarakat yang serba berkecukupan itu lebih sedikit dibanding mereka yang serbahidup “paspasan” atau bahkan di bawah garis kemiskinan.

Dengan persentase yang begitu kontras maka sangatlah adil sekali Allah menempatkan posisi ketaatan dan ketakwaan adalah nomor satu dari segala-galanya dari seorang hamba. Bahkan dalam hadis lain juga disebutkan bahwa tingkat riyadah (latihan) ibadah hamba yang terus menerus secara berkesinambungan salah satu tipe orang yang berhak merayakan hari raya ‘idul fitri.

Jadi, yang menjadi sasaran dari perayaan hari kemenangan ini hanya yang benar benar punya kesungguhan untuk tetap komit beribadah dan selalu mengagungkan asma-Nya yang agung. Salah satu alasan yang tepat tidak lain adalah karena makna ‘idul fitri itu sendiri adalah “kembali kepada fitrah (kesucian)”.

Jadi, siapakah yang punya kelayakan untuk mendapatkan kesucianitu? Apakah mereka yang hanya memperindah diri,accesoris yang serba mahal. Tentunya tetaplah mereka yang sudah membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan baik itu secara vertical kepada Allah maupun secara horizontal kepada sesama manusia.

Maka sebulan penuh pada Ramadhan adalah sarana dan wadah yang disediakan Allah bagi mereka yang mau kembali kepada yang maha suci dengan kesucian hati dan diri. Jangan terlalu bangga bagi mereka yang punya kelebihan rezeki dalam menampilkan hal-hal yang mewah dalam merayakan ‘idul fitri.

Sebab hakikat‘idul fitri bukan terletak pada tampilan fisik tapi pada hati dan tingkat ketaatan kepada Allah. Hari yang fitri merupakan puncak dari sebuah riyadah (latihan) spiritual yang dilakukan umat Islam selama satu bulan penuh. Hal itu dilakukan dengan harapan agar kiranya dapat terlahir pada ‘idul fitri benar-benar fitrah(suci)kembali sebagaimana ketika awal terlahir dari perutibu.

Oleh karena itu merugilah orang yang sibuk mempercantik tampilan fisiknya namun kesucian yang menjadi hakikat ‘idul fitri itu sendiri tidak tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s