Sekolah Lapang

Salah satu intervensi program dalam peningkatan produktivitas adalah sekolah lapang. Sekolah Lapang merupakan sebuah “sekolah tanpa dinding”, sehingga ruang kelas sekaligus perpustakaannya, adalah lahan/kebun itu sendiri.  Peserta Sekolah Lapang berkumpul satu kali seminggu selama satu musim (12-16 minggu untuk tanaman pangan dan 18-24 minggu untuk tanaman perkebunan) untuk mengikuti dan menganalisis perkembangan tanaman mereka, fase demi fase.  Sekaligus mereka mendalami berbagai prinsip yang terkait dengan perkembangan tanaman seperti dinamika populasi serangga, fisiologi  dan kompensasi tanaman, pemeliharaan kesuburan tanah, pengaruh air dan cuaca, pemilihan varietas/klon, dan lain-lain, melalui eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan sendiri.

Selain kegiatan pokok, serangkaian kegiatan (topik khusus) dilakukan sesuai dengan masalah-masalah khusus yang dihadapi komunitas petani di setiap tempat.  Yang selalu nampak pada Sekolah Lapang adalah peran aktif petani sebagai pelaku, peneliti, pemandu, dan manajer lahan yang ahli.  Materi “pengembangan manusia” tidak kalah penting dengan ilmu pertanian dan dilakukan dalam penyelenggaraan Sekolah Lapang, sebagaimana tercermin dalam kegiatan perencanaan, dinamika kelompok dan sebagainya.

Lahirnya pola pendekatan Sekolah Lapang ini didasari oleh dua tantangan pokok yang saling terkait, yaitu keanekaragaman ekologi lokal dan peranan petani yang harus menjadi “ahli” di lahannya sendiri.  Sekolah Lapang bukan sekedar metodologi baru, melainkan kembali ke arti “sekolah” yang sebenarnya sebagai suatu tempat bagi peserta secara aktif menguasai dan mempraktekkan proses penciptaan ilmu pengetahuan.  Proses belajar dalam Sekolah Lapang erat kaitannya dengan pandangan terhadap sifat dasar manusia sebagai mahluk hidup yang aktif dan kreatif yang senantiasa ‘haus’ akan pengertian tentang arti dan maksud hidup.

Pola Sekolah Lapang dirancang sedemikan rupa sehingga kesempatan belajar petani terbuka selebar-lebarnya agar para petani berinteraksi dengan realita mereka secara langsung, serta menemukan sendiri ilmu dan prinsip yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, pola pendidikan petani melalui Sekolah Lapang bukan sekedar “belajar dari pengalaman”, melainkan suatu proses sehingga peserta didik yang kesemuanya adalah orang dewasa, dapat menguasai suatu proses “penemuan ilmu” yang dinamis dan dapat diterapkan dalam manajemen lahan pertaniannya maupun dalam kehidupan sehari-hari mereka.  Hal ini penting, karena jaman ini sarat dengan unsur perubahan.  Diharapkan agar proses Sekolah Lapang dapat menyiapkan petani tangguh yang mampu menghadapi dinamika yang berjalan dan tantangan masa depan.

Sekolah Lapang

Sekolah lapang yang benar memiliki ciri-ciri utama seperti: (i) Sawah/Lahan Pertanian sebagai Sarana Belajar Utama. Ketrampilan budidaya adalah ketrampilan terapan, sehingga hampir 80% dari waktu keseluruhan digunakan langsung di sawah/lahan, bukan di kelas; (ii) Cara Belajar Lewat Pengalaman. Setiap kegiatan dimulai dengan penghayatan atau pengamatan langsung, kemudian pengungkapan pengalaman, pengkajian hasil, dan penyimpulan hasil.  Siklus belajar ini diusahakan dalam setiap kegiatan sekolah lapang; (iii) Pengkajian Agro-ekosistem. Sekolah Lapangan terpola dalam siklus mingguan dimana setiap unsur agro-ekosistem dikaji secara sistematis dan mendalam.  Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa, perubahan keadaan agro-ekosistem sawah/lahan cukup berbeda antara minggu yang satu dengan minggu lainnya.  Tiap akhir minggu keadaan agro-ekosistem disusun secara utuh untuk pengkajian dan pengambilan keputusan manajemen lahan minggu berikutnya.  Siklus ini menyerupai prinsip pantauan mingguan yang akan diterapkan di tingkat petani dan membiasakan peserta latihan untuk terus mengikuti perkembangan sawah/lahannnya selama satu musim dan atau dari musim ke musim; (iv) Metoda serta Bahan yang Praktis dan Tepat Guna. Setiap kegiatan sekolah Lapang, beserta bahan penunjangnya, dirancang sedemikian rupa agar dapat diterapkan langsung oleh para petani di komunitas desa.  Dengan demikian keterampilan dan pengalaman yang diperoleh peserta akan menjadi bekal yang terkuasai, yang mudah dialihkan ke dalam tugas sehari-hari di tingkat desa; (v) Kurikulum Berdasarkan Ketrampilan yang Dibutuhkan. Kurikulum dirancang atas dasar analisis ketrampilan lapangan yang perlu dimiliki oleh seorang petani untuk menjadi ahli, agar ia sungguh-sungguh paham dan mampu menerapkannya di lahannya sendiri, serta meneruskannya kepada para petani lainnya.  Selain keterampilan dan pengetahuan teknis pertanian, peserta memperoleh pula kecakapan dalam perencanaan kegiatan, kerjasama, dinamika kelompok, pengembangan bahan belajar, serta komunikasi, agar ia dapat menjadi fasilitator yang mampu merangsang dan membantu kelompok-kelompok tani secara efektif.

Terimplementasikannya sekolah lapang karet, petani yang ada akan belajar bersama untuk menyiapkan sumber bibit unggul dengan mengembangkan kebun entrees dalam rangka replanting karet tua. Berbagai teknis budidaya karet yang benar akan dijadikan modul-modul utama dalam proses belajar di tingkat kelompok, mulai dari pengelolaan tanaman yang sudah ada, pemupukan, topping, pengendalian hama dan penyakit, penyadapan yang baik dan benar, menghasilkan karet bersih dan prosesing karet. Sedang materi utama tambahan seperti replanting tanaman tua, sistem tumpang sari, pemasaran bersama dan pembentukan Unit Penampungan dan Pengolah Bokar, kelembagaan dan organisasi dalam rangka membangun kemitraan dalam pemasaran bersama kelompok/gapoktan karet, akan menjadi bagian yang terus berkembang seiring dengan peningkatan SDM di tingkat petani karet.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s