Kenangan Dimasa Kecil

Untuk kesekian kalinya aku melewati sungai yang membelah kota pekalongan disetiap kepulanganku. Sungai tersebut diberi nama sungai loji, aku sendiri tidak tahu apa artinya dan dari bahasa mana. Yang jelas sungai tersebut sekarang sudah sangat kotor dengan sampah dan juga berwarna coklat, bahkan menurutku berwarna hitam, bisa dipastikan ini karena tercemar dari limbah industri batik di kotaku dan juga limbah sampah dari rumah tangga.
Aku terbayang masa kecilku dulu pada saat air sungai loji tidak sekotor ini. Air yang masih jernih, bersih, bahkan kita bisa melihat bagian dasar sungai dibagian tepi sungai. Ini memudahkan kita pada saat akan menangkap udang sungai dengan menggunakan serat batang pisang yang dibuat lingkarang dan diikat di sebuah lidi, kemudian serat pisang tersebut dikaitkan ke mata udang. Dari kelas dua SD aku sudah biasa bermain di tepi sungai. Kebetulan belakang rumahku adalah sungai loji tersebut. Setiap pulang sekolah kebiasaanku adalah bermain dibelakang rumah dekat sungai, selain sejuk karena banyak pohon warunya juga banyak sekali kapal kursen (setelah aku kuliah ternyata yang benar adalah purse seine/ jaring lingkar) yang bersandar disepanjang tepi sungai. Berenang adalah kegiatan yang rutin dilakukan. Hampir semua teman ku sudah bisa berenang, mereka belajar berenang dengan cara yang sederhana namun sebenarnya membahayakan. Hanya dengan seutas tali yang diikatkan melingkar dibawah ketiak, mereka mulai belajar berenang. Biasanya teman yang lebih besar badannya yang akan memegangi talinya dan kemudian langsung menyeburkan diri. Pertolongan dilakukan dengan cara menarik tali apabila sudah benar benar mau tenggelam. Aku tidak bisa membayangkan kenapa semua melakukan hal seperti ini.
Ada sekitar 4 sampai 6 kapal pursen yang sandar dibelakang rumah ku. Aku kadang terobsesi dengan orang orang yang bekerja di kapal tersebut. Ada 2 orang pemuda yang kukenal, pada saat ini aku masih SD kelas 4 dan mereka sudah berumur sekitar 20 tahunan. Mereka adalah orang perantauan, datang dari Sumatra karena sering bermain membuat kita akrab dan aku memanggil abang. Mereka setiap hari tinggal dikapal. Suatu hari dia minta ijin keorang tuaku untuk numpang alamat surat karena pada jaman itu surat adalah alat komunikasi bagi kita yang tinggal berjauhan. Disitulah awalnya aku sangat menyukai kapal atau pelaut. Apalagi pada saat aku bermain di anjungan dan memegang kemudi. Terbayang bagaimana gagahnya seorang pelaut yang mengarungi samudra, menghadapi badai. Ada saat yang selalu kutunggu, pada saat kita tahu kapal akan di uji coba ke laut, biasanya kita sudah dari siang menunggu untuk bisa ikut. Terkadang kapal dicoba sampai ke pulai karimun jawa. Hingga kelas 6 SD kegiatan ku bermain dibelakang rumah dipinggir sungai rutin kulakukan. Ada saat saat tertentu yang paling menyenangkan sepanjang tahun, selain pas musim udang atau ikan, yaitu pada bulan puasa.


Pada waktu itu bulan puasa merupakan hari libur yang panjang. Hampir setiap hari aku tidak pernah dirumah. Dirumah hanya pada saat tidur malam. Setelah subuh biasanya kita akan jalan jalan kemudian tidur sebentar dan agak siang sedikit kita akan bermain sampan. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan adalah kita bersampan ke arah hulu dengan bantuan layar buatan dari sarung. Disepanjang tepi sungai selain kita menikmatii sejuknya udara siang juga sambil mencari buah buahan yang bisa di petik, dan tentunya kita mencuri. Mulai dari buah jambu, pepaya sampai pisang. Target kita biasanya rumah rumah yang kosong dan juga rumah rumah cina yang pelit. Ada satu kejadian yang sampai sekarang tidak bisa kulupakan, kami bertiga sudah mendekat tepi rumah yang ada pohon pepayanya sudah matang, denga perlahan lahan kami mendekati dan salah satu teman ku mulai turun kedarat, tengok san tengok sini, setelah dipikir aman temanku mulai naik pohon pepaya dan teman ku satu lagi tunggu di bawahnya siap untukmenangkap pepaya yang akan dijatuhkan, sementara aku tetap menunggu di sampan. Baru tiga perempat teman ku memanjat pohon ada anjing yang punya rumah keluar, seketika temanku yang menunggu dibawah langsung lari dan melompat kedalam sampan, tahu hal itu temanku yang diatas pohon langsung turun dengan cara meluncur tanpa menghiraukan bagaimana sakitnya meluncur di pohon pepaya yang batangnya tidak rata. Pepatah mengatakan sudah jatuh ketimpa tangga, itulah yang dialami teman ku, pada saat dia mau melompat ke sampan ter nyata di terpeleset akhirnya dia jatuh kesungai. Kami segera membantunya untuk naik ke sampan dan bergegas kami mendayung sekuat tenaga nenjauh dari pinggiran sungai, sementara anjing tersebut masih menggonggong dan mengejar disepanjang pinggiran sungai,…kami tertawa terbahak bahak,.walaupun teman ku ketiban sial. Dan pas dibuka bajunya ternyata dadanya merah semua, ada beberapa yang lecet kulitnya.
Tak sadar aku tersenyum sendiri, bunyi rem mobil membuyarkan lamunanku dimasa kecil. Aku segera pergi dari sungai loji yang banyak menyimpan kenangan masa kecilku. Seandainya sungai loji yang sekarang sebersih sungai loji pada masa kecilku, rasanya aku ingin lagi berenang, bermain sampan, tapi tentunya tidak akan mencuri buah buahan lagi. Kasihan anak anak sekarang mereka tidak bisa menikmati sebagian alam yang ada, karena sudah rusak, tercemar karena perkembangan jaman dan laju industri yang menyebabkan rusaknya alam ini.

15:10 Juni 20, 2009

Tuna Fishing Vessel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s